Berita Terkini
light_mode
Beranda » Nasional » Krisis Minyak Dunia, NURINDA GENJOT PASAR PLTS KOMUNAL

Krisis Minyak Dunia, NURINDA GENJOT PASAR PLTS KOMUNAL

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Bunaken – salah satu project Energi Terbarukan Nurinda. (Ist)

TRIASINDONESIA.COM – Di balik kesulitan ada rezeki nomplok. Setidaknya begitulah kondisi krisis energi global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah dan ancaman penutupan Selat Hormuz.

Bagi banyak negara, ketergantungan pada bahan bakar fosil bukan sekadar masalah polusi, melainkan kerentanan geopolitik yang mematikan.

Sementara Indonesia, negara kepulauan yang dilintasi garis khatulistiwa, membawa angin segar, meski sedikit terlambat. Kesadaran bahwa mencandu batu bara bukan cuma merusak paru-paru, tapi juga mencekik kedaulatan.

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai ambisi hijau yang perkembangannya bagai langkah kura-kura kembali menjadi pilihan.

Suwardi Setiawan, Direktur Utama PT Nurinda, sebuah perusahaan infrastruktur listrik yang telah 25 tahun bergerak di sektor ini, melihat momentum yang berbeda dari sebelumnya.

PLTS sekarang mulai dapat angin lagi,” ujarnya kepada Trias.

Dia mengakui, pelanggan terbesarnya memang masih PLN, tetapi sektor swasta, khususnya tambang dan pembangkit listrik mandiri mulai melirik.

“Pertanyaannya, apakah kali ini Indonesia benar-benar siap,” ujarnya dengan nada datar.

Dalam pandangannya, selama ini geo-thermal selalu disebut sebagai primadona energi alternatif Indonesia. Sebagai negara vulkanik, potensinya besar. Hanya saja, hadir di tempat yang salah. “Penduduknya di mana, geotermalnya di mana,” ujarnya.

Di Pulau Jawa yang menjadi pusat kegiatan ekonomi, geotermal justru langka. Sumatra punya, tapi jaraknya jauh. Belum lagi biaya investasi awal yang mirip pengeboran minyak bumi sangat mahal.

Maka, di atas kertas, PLTS menjadi pilihan paling rasional. Indonesia adalah negara tropis; matahari bersinar di mana-mana. Walaupun awan kerap menjadi masalah, teknologi hybrid dengan baterai sebagai “bantalan” kini mampu mengatasi fluktuasi cahaya yang tiba-tiba hilang dan datang.

“Peristiwa mati listrik di Portugal dan Spanyol tahun lalu salah satu faktornya adalah gangguan dari PLTS. Akibat lonjakan tak terkendali. Dengan sistem penyangga, risiko itu bisa ditekan,” urainya mengingatkan.

Kurun waktu 25 tahun berkecimpung pada penyediaan panel listrik tegangan rendah dan menengah untuk sektor swasta maupun PLN, setidaknya Suwardi paham, mengapa program PLTS pasang surut.

Dia menyebut, beberapa tahun lalu, PLTS pernah menjadi tren, lalu meredup. Penyebabnya adalah kelebihan kapasitas listrik di Pulau Jawa.

“PLN enggan menambah pasokan dari surya karena investasi infrastruktur yang sudah terlanjur dibangun akan menganggur,” katanya.

Belum lagi persoalan stabilitas jaringan. Karena sifat matahari yang intermiten, PLN hanya mengizinkan porsi PLTS maksimal 10-15% dari total kapasitas.

“Itu secara teknis memang harus diselesaikan,” ujarnya.

Namun regulasi mulai matang tahun lalu. Pemerintah dan PLN akhirnya paham bahwa sistem off-grid atau hybrid tidak akan mengganggu.

“Tapi perubahan aturan yang terus terjadi membuat program PLTS pasang surut,” ungkapnya.

Faktor lain yang dulu menghambat adalah ketidakmatangan teknologi. Suwardi menyamakannya dengan ponsel. Setiap tahun keluar model lebih baik dan lebih murah. Demikian pula panel surya: dari 250 watt peak (WP), naik ke 300, 400, 600, dan kini 700 WP. Baru pada angka 700 WP teknologi ini dianggap stabil.

“Sekarang sudah mature,” tegasnya.

Stabilitas teknologi membuat perhitungan pengembalian investasi (return) menjadi lebih pasti. Ditambah kesadaran masyarakat yang meningkat dan regulasi yang tidak lagi berubah-ubah.

PLTS kini memiliki empat keunggulan utama: sumber daya melimpah, teknologi matang, kesadaran publik, dan payung hukum jelas,” ungkapnya.

Tapi tidak semua segmen pasar cocok. Untuk perumahan, PLTS memiliki dua kelemahan besar. Pertama, lahan. Di perkotaan, rumah bertingkat karena tanah mahal, sehingga atap (rooftop) sempit. Mema sang panel surya dalam skala kecil membuat biaya pemasangan dan inverter menjadi tidak ekonomis.

Sebaliknya, sektor komersial seperti perkantoran, pabrik, dan tambang justru ideal karena kegiatan berlangsung di siang hari. Di tambang terpencil, PLTS menggantikan genset bensin yang mahal logistiknya.

“Kami melihat celah ini dimana perusahaan tidak hanya menjual panel, tetapi juga solusi lengkap,” ujarnya.

“Produk unggulannya adalah PLTS komunal untuk daerah terpencil,” tambahnya.

Menghadapi tahun 2026, strategi Nurinda adalah diversifikasi dan inovasi. Dari awalnya hanya membuat panel distribusi tegangan rendah, kini mereka merambah sambungan kabel tegangan menengah, PLTS portabel dan permanen, serta bekerja sama dengan mitra China untuk membuat pemutus tegangan menengah (MV cubicle).

Begitu juga layanan purnajual juga menjadi bagian tak terpisahkan. “Kadang produk tidak selalu bagus, atau pelanggan tidak paham cara pakai,” ujarnya. Maka layanan menjadi jembatan membangun kepercayaan.

“Kalau kita hanya jalan di tempat, berarti mundur,” pungkasnya. (TR)

  • Penulis: Redaksi
expand_less