Berita Terkini
light_mode
Beranda » Nasional » BBWS Citarum: Di Balik Air yang Mengalir

BBWS Citarum: Di Balik Air yang Mengalir

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Senin, 17 Agt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Bendungan Sadawarna. (dok. BBWS Citarum)

TRIASINDONESIA.COM – Sekitar 80 persen pasokan air baku Jakarta berasal dari Citarum lewat Waduk Jatiluhur. BBWS Citarum menjalankan simulasi ketersediaan air sampai akhir tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa persediaan masih mencukupi.

Wilayah Sungai Citarum termasuk wilayah sungai strategis nasional. Fungsinya merentang dari irigasi, air baku, sampai energi. Sekitar 80 persen pasokan air baku Jakarta berasal dari Citarum lewat Waduk Jatiluhur.

Di sepanjang sistem sungainya ada tiga waduk utama—Saguling, Cirata, dan Jatiluhur—yang juga menopang listrik bagi sistem Jawa-Bali. Skalanya membuat pengelolaan Citarum lebih dari sekadar mengurus sungai. Wilayahnya meliputi 19 sub-DAS dan 14 kabupaten serta kota. Jaringan irigasinya mencapai sekitar 522.000 hektare. Jatiluhur sendiri melayani kira-kira 222.000 hektare. Air di waduk cukup. Tantangannya, memastikan air itu sampai ke sawah.

“Air kita sebenarnya cukup. Namun, persoalannya bukan semata ketersediaan air, tetapi bagaimana air itu dikelola dan didistribusikan sesuai Rencana Tata Tanam Global (RTTG),” ujar Abdul Ghoni Majdi, Plt Kepala Balai BBWS Citarum kepada Trias.

Hal itu tampak di Sistem Tarum Timur, yang mengalir ke arah Karawang, Subang, dan Indramayu. Kapasitas salurannya sekitar 62,5 meter kubik per detik.

Apabila seluruh area menanam bersamaan, kebutuhannya bisa menyentuh kira-kira 90 meter kubik per detik. Maka jadwal tanam mesti dibagi dalam beberapa golongan.

Di atas kertas, pengaturannya sederhana. Di lapangan, sudah tentu tidak.

Petani punya alasan sendiri untuk menunggu. Ada kebiasaan setempat, ada kekhawatiran terhadap hama tikus, dan ada keinginan untuk tidak menjadi yang pertama menanam.

Alhasil, petani yang seharusnya mengikuti jadwal berbeda bisa berakhir menanam nyaris serempak. Air tersedia, tetapi salurannya tidak sanggup mengirimkan semuanya sekaligus.

“Ada kearifan lokal bahwa harus menunggu waktunya untuk menanam,” ujarnya.

“Ada juga anggapan bahwa yang menanam duluan lebih berpotensi diserang hama tikus, sehingga petani saling menunggu, tidak mau menjadi yang pertama. Akhirnya terjadi tanam serentak,” jelasnya.

Masalahnya bukan hanya jumlah air. Saluran juga punya batas. Menurutnya, BBWS Citarum sudah menjalankan simulasi ketersediaan air sampai akhir tahun. Dengan pola operasi waduk dan jadwal tanam sesuai rencana, persediaan disebut masih mencukupi.

Bahkan ada potensi surplus sekitar 900 juta meter kubik. Namun distribusi di lapangan tetap menjadi soal sendiri.

“Kuncinya ada di pola operasi ketiga waduk. Jangan sampai salah satu, terutama Jatiluhur karena posisinya paling hilir, mengalami elevasi air yang defisit, sehingga pembagian airnya terganggu baik untuk irigasi maupun air baku,” ujarnya.

Maka pekerjaan selanjutnya bukan sekadar mencari sumber air baru. Ada normalisasi saluran, pengaturan distribusi, dan koordinasi dengan petani serta pemerintah daerah.

Guna mengantisipasi kekeringan di Tarum Timur, BBWS Citarum juga menyiapkan suplai dari Bendungan Sadawarna menuju sistem yang lebih hilir.

Urusannya bertambah ruwet saat air mesti dibagi untuk kepentingan lain. Jatiluhur tidak cuma menyediakan air bagi pertanian. Ia juga menjadi sumber air baku dan bagian dari sistem pengendalian banjir.

Sementara itu, kebutuhan industri terus meningkat. Maka setiap perubahan pola pemakaian air membawa akibat di tempat lain.

Persoalan Citarum bukan hanya soal kuantitas air, tetapi juga kualitasnya.

Citarum Harum membawa perbaikan nyata: kualitas air Citarum membaik dari “cemar berat” menjadi “cemar ringan” sepanjang 2018–2025. Namun, perbaikannya belum tuntas. Limbah peternakan, industri, sedimentasi, dan persoalan di kawasan hulu masih membayangi kualitas Citarum.

“Dulu Citarum sempat dikenal sebagai salah satu sungai terkotor di dunia. Lewat Citarum Harum, kualitas airnya membaik dari ‘cemar berat’ menjadi ‘cemar ringan’ pada 2025,” ujarnya.

“Tapi program besar itu sudah selesai, dan pekerjaannya kini dilanjutkan dengan skala yang lebih kecil oleh pemerintah provinsi,” tambahnya.

Citarum sudah lama dipenuhi berbagai proyek: bendungan, saluran, normalisasi, dan jaringan irigasi. Semua itu penting. Tetapi membangun saja tidak cukup. Air tetap harus dibagi.

Jadwal tanam yang tidak dipatuhi bisa mengacaukan distribusi. Saluran yang kapasitasnya terbatas tidak bisa dipaksa mengalirkan air melampaui kemampuannya. Bahkan saat air tersedia di waduk, air itu belum pasti sampai ke sawah bila distribusinya tidak mengikuti perencanaan.

Bagi BBWS Citarum, menghadapi musim kemarau bukan semata soal mencari tambahan air. Tantangannya adalah memastikan air yang tersedia dapat dikelola dan didistribusikan secara tepat.

“Harapan kami, petani bisa lebih disiplin mengikuti rencana tata tanam yang sudah disepakati bersama seluruh pemangku kepentingan,” katanya.

“Untuk industri, pengambilan air harus berizin dan pemanfaatannya harus seefisien mungkin,” pungkasnya. Airnya ada. Yang tidak sederhana adalah membaginya. (TR)

  • Penulis: Redaksi
expand_less