Breaking News
light_mode
Beranda » Daerah » Perkuat Pengusulan KH Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional, Pemkot Semarang Gelar Seminar Internasional

Perkuat Pengusulan KH Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional, Pemkot Semarang Gelar Seminar Internasional

  • account_circle Redaksi Trias Indonesia
  • calendar_month Kam, 20 Nov 2025
Foto: Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin dalam seminar internasional bertajuk “The Legacy of K.H. Sholeh Darat for Indonesian Independence as the Basis for Proposal of the National Hero Title” di Ballroom Rama Shinta, Patra Semarang Hotel & Convention, Selasa (11/11).

TRIASINDONESIA.COM, SEMARANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang bersama Universitas Diponegoro dan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) menggelar seminar internasional bertajuk “The Legacy of K.H. Sholeh Darat for Indonesian Independence as the Basis for Proposal of the National Hero Title” di Ballroom Rama Shinta, Patra Semarang Hotel & Convention, Selasa (11/11).

Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat pengusulan gelar Pahlawan Nasional bagi ulama besar asal Semarang, Kiai Haji Muhammad Sholeh bin Umar as-Samarani atau KH Sholeh Darat.

Acara tersebut menghadirkan sejumlah tokoh penting, di antaranya Kepala ANRI Mego Pinandito, Ketua BAZNAS RI Prof. Dr. KH Noor Achmad, perwakilan Forkopimda Kota Semarang, serta para akademisi dan ulama dari berbagai daerah. Selain itu, hadir pula narasumber internasional seperti Dr. Suryadi, M.A. (Leiden University, Belanda), Prof. Dr. Mohd Roslan Bin Mohd Nor (Universiti Malaya, Malaysia), dan Prof. Dr. Khairudin Al Juned (National University of Singapore, Singapura).

Para narasumber menyoroti kontribusi besar KH Sholeh Darat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, perkembangan intelektualisme Islam, serta pembentukan nasionalisme di Nusantara.

Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin—mewakili Wali Kota Agustina Wilujeng—menyampaikan bahwa perjuangan KH Sholeh Darat dilakukan melalui ilmu dan dakwah, bukan peperangan fisik.

“Beliau adalah ulama yang berjuang dengan pena, bukan senjata. Pemikiran dan karya-karyanya membentuk Islam Nusantara yang damai, toleran, dan cinta tanah air. Banyak murid beliau yang kemudian menjadi tokoh besar, seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan,” ujarnya.

Pemkot Semarang, lanjut Iswar, bersama masyarakat dan Nahdlatul Ulama terus mengumpulkan arsip dan dokumen untuk memperkuat pengusulan gelar Pahlawan Nasional.

Kepala ANRI, Mego Pinandito, dalam kesempatan yang sama menegaskan dukungan penuh terhadap upaya tersebut. Ia menyebut perjuangan KH Sholeh Darat sebagai bentuk jihad intelektual yang turut membangun kesadaran kebangsaan.

“Jika Pangeran Diponegoro berjuang dengan senjata, maka KH Sholeh Darat berjuang dengan ilmu, naskah, dan tulisan. Itulah fondasi kebangkitan bangsa,” ujarnya.

Mego juga mengajak masyarakat turut menyumbangkan naskah asli karya KH Sholeh Darat agar dapat direstorasi dan didigitalisasi.

Dalam sambutannya, Wali Kota Agustina Wilujeng menegaskan bahwa pengusulan gelar tersebut merupakan tanggung jawab moral terhadap sejarah bangsa.

“KH Sholeh Darat adalah pendidik visioner yang menyalakan obor keilmuan dan kebangsaan. Melalui karya-karyanya dalam bahasa Jawa Pegon, beliau membuka akses ilmu agama bagi masyarakat luas di masa penjajahan,” tulisnya.

Seminar internasional tersebut juga menghadirkan diskusi lintas negara mengenai transliterasi naskah, tafsir Pegon, serta jaringan ulama Jawa–Haramain. Para peserta sepakat bahwa upaya pengusulan harus dibarengi dengan digitalisasi karya KH Sholeh Darat agar dapat diakses generasi muda. Kolaborasi antara Pemkot Semarang, ANRI, perguruan tinggi, pesantren, dan masyarakat diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat berkas pengusulan sehingga KH Sholeh Darat dapat segera ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

  • Penulis: Redaksi Trias Indonesia
expand_less