Breaking News
light_mode
Beranda » Daerah » MERAWAT TRADISI BERPIKIR DI UIN JAKARTA

MERAWAT TRADISI BERPIKIR DI UIN JAKARTA

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sel, 17 Feb 2026

TRIASINDONESIA.COM – Begitu melewati gerbang Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, suara klakson dan jejeran kendaraan yang lelah menembus kemacetan seperti menguap entah ke mana. Pepohonan tua meredam panas, jalan kampus terasa lebih teduh, dan langkah- langkah mahasiswa terdengar lebih jelas daripada deru mesin.

Di sinilah, di tengah kepadatan kota penyangga ibu kota, kampus berusaha merawat sesuatu yang justru langka di luar pagar, ketenangan untuk berpikir. Ketenangan itu bukan kebetulan, melainkan sesuatu yang sedang diusahakan.

Bagi Asep Saepudin Jahar, rektor UIN Jakarta, usaha itu bermula dari hal yang tak kasatmata: budaya akademik. “Kampus harus menjadi rumah percakapan ilmu,” ujar Asep Saepudin Jahar kepada Trias.

“Mutu pendidikan dan penelitian lahir dari kebiasaan berpikir yang dirawat terus  menerus, bukan dari target yang dikejar sesaat,” tambahnya. Maka yang dibangun pertama-tama bukan gedung baru, melainkan iklim.

Prof. Asep Saepudin Jahar, rektor UIN Jakarta.

Para guru besar didorong hadir sebagai pembimbing, mendampingi dosen-dosen muda menyusun riset dan membuka ruang kolaborasi lintas bidang. Penelitian diarahkan bertumpu pada kekuatan program studi, agar tiap disiplin punya akar yang jelas sebelum menjulur ke jejaring yang lebih luas.
“Riset tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Harus ada kebersamaan, ada mentoring, ada tradisi diskusi,” katanya.

Baginya, dari ruang-ruang diskusi itulah proposal riset bergerak menuju kementerian, lembaga pendanaan seperti LPDP, hingga BRIN, juga ke mitra perguruan tinggi di luar negeri. Pelan-pelan, peta keilmuan kampus ini meluas. Kajian keislaman tetap menjadi jantung, tetapi ia berdialog dengan isu lingkungan, sains, gender, hingga dinamika sosial-politik.

“Agama harus berbicara dengan realitas. Kalau tidak, kampus akan tertinggal dari persoalan zamannya,” tuturnya.

Upaya meningkatkan kualitas pendidikan berjalan seiring, lanjutnya, dosen-dosen didorong mengikuti pelatihan, forum internasional, studi lanjut, dan berbagai bentuk pembelajaran ulang. Dengan didukung adanya insentif atas publikasi dan sitasi, serta penghargaan atas capaian akademik.

“Mengajar itu bukan garis akhir belajar. Dosen juga harus terus tumbuh,” ujarnya.
Di sisi lain, wajah kampus juga dibentuk oleh mahasiswa yang datang dengan cerita hidup yang beragam. Sebagian berasal dari daerah terluar, sebagian dari keluarga dengan penghasilan terbatas, sebagian lagi harus menghadapi perubahan nasib di tengah masa studi—orang tua wafat, pekerjaan hilang, pendapatan terhenti.

Dalam kisah-kisah seperti itu, menurutnya, kebijakan kampus tak bisa berdiri kaku. Berbagai skema beasiswa, bantuan pendidikan, hingga penyesuaian ulang UKT dijalankan agar pendidikan tidak terputus oleh keadaan.

Ruang kelas diperbarui, teknologi pembelajaran diperkuat, fasilitas dasar dibenahi. Di luar ruang kuliah, kegiatan mahasiswa—olahraga, seni, organisasi— difasilitasi sebagai bagian dari Pendidikan yang membentuk manusia seutuhnya.

“Lingkungan belajar harus membuat mahasiswa merasa dihargai,” katanya. Di balik layar, sistem digital diperkuat agar birokrasi tidak lagi menjadi beban yang menguras energi akademik. Layanan bergerak menuju nirkertas, sistem akademik terintegrasi, dan tata kelola sumber daya diperbaiki.
“Kalau administrasi rapi, energi dosen dan mahasiswa bisa kembali ke ilmu,” ujarnya.

Sejumlah capaian pun mengikuti : pengakuan akademik bertambah, reputasi menguat, jejaring internasional meluas. Konkritnya, baru-baru ini UIN Jakarta mengundang puluhan profesor, peneliti, dan akademisi untuk mengajar dan meneliti di UIN Jakarta, baik melalui program Adjunct Professor, Fellowship, dan International Staff dari berbagai perguruan tinggi dan riset lintas benua.

Selain itu, UIN Jakarta berhasil meraih rekognisi internasional seperti QS World University Rankings, jurnal-jurnal terindeks SCOPUS, Webometrics, dan akreditasi ASIIN dan ACQUIN.Namun bagi Asep, capaian bukanlah garis akhir. Dia lebih percaya pada arah perjalanan.

“Kampus harus punya peta jalan yang melampaui siapa pun rektornya. Budaya akademik itu yang harus hidup,” katanya. Di luar pagar, klakson akan tetap bersahutan, orang-orang tetap berkejaran dengan waktu. Tetapi didalam kampus, ada upaya menjaga ruang jeda—ruang tempat pikiran bisa berjalan lebih pelan, lebih dalam.

“Di tengah dunia yang serba cepat. Kampus justru harus menjaga kedalaman,” Prof. Asep Saepudin Jahar, rektor UIN Jakarta. pungkasnya. (TS)

  • Penulis: Redaksi
expand_less