Dua Dunia, SATU BANK KERTA
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TRIASINDONESIA.COM – Di Kabupaten Tangerang, dua dunia bertemu dan kerap berbenturan. Dunia pertama adalah ekonomi tradisional yang sudah mengakar puluhan tahun: para pedagang kaki lima yang menggelar dagangan di atas gerobak, ibu-ibu penjual sayur keliling yang menenteng keranjang, kios-kios kecil di pasar-pasar tradisional yang buka dari subuh hingga petang. Dunia ini hidup dari transaksi tunai, kepercayaan antarwarga, dan perputaran uang yang tak tercatat dalam sistem perbankan formal.
Dunia kedua adalah ekonomi digital yang tumbuh cepat: aplikasi pinjaman online yang menjanjikan cair dalam hitungan menit, dompet digital yang menggeser uang fisik, dan media sosial yang mengubah cara orang berjualan.
Dunia ini bicara soal algoritma, skor kredit, dan transaksi nontunai yang terekam rapi di server. Di sinilah letak anomalinya: sementara rata-rata industri BPR di seluruh Indonesia kini mencatat kredit bermasalah di atas 12 persen, sebuah BPR milik pemerintah Kabupaten Tangerang justru duduk tenang di angka 2,9 persen. Bank Kerta—atau lebih resminya, PT BPR Kerta Raharja Gemilang—adalah institusi yang mengurus keduanya.
Nasabah terbesarnya adalah pegawai negeri yang gajinya langsung dipotong tiap bulan. Nasabah terkecilnya adalah pedagang gendongan yang meminjam Rp2 juta tanpa agunan apa pun. Kedua kelompok itu, entah bagaimana, diurus oleh institusi yang sama. Produk kredit Bank Kerta dirancang mengikuti logika tangga.
Di anak tangga paling bawah ada Kredit Mikro Raharja: pinjaman maksimal Rp10 juta, bunga satu persen per bulan, tanpa agunan, tenor tiga hingga dua belas bulan. Saat ini produk ini melayani 540 nasabah dengan outstanding hampir Rp1,8 miliar.
“Kami sengaja desain untuk pedagangpedagang kecil di pasar, pedagang gendongan, pedagang keliling yang memang belum punya agunan dan keterbatasan syarat administrasi,” kata Uus Mustaudi, Direktur Operasional Bank Kerta kepada Trias.
Di anak tangga berikutnya ada Kredit Multi Usaha, untuk mereka yang sudah naik kelas: sudah punya aset tanah atau kendaraan, sudah punya rekam jejak pinjaman, dan usahanya mulai berkembang. Plafon bisa mencapai Rp200 juta, dinilai menggunakan prinsip 5C. Outstanding segmen ini kini sekitar Rp11 miliar.
Keduanya bukan sekadar dua produk yang berdiri sendiri—melainkan sebuah jalur, di mana nasabah mikro yang berhasil diharapkan naik kelas membawa rekam jejak yang sudah dibangun dari bawah. Namun yang menopang neraca Bank Kerta sesungguhnya bukan pedagang pasar.
Pemerintah Kabupaten Tangerang mempercayakan pengelolaan payroll kepada bank ini untuk PNS yang diangkat sejak 2022. Kini 5.800 pegawai gajinya mengalir melalui Bank Kerta setiap bulan. Ketika para pegawai itu meminjam, cicilan dipotong langsung dari gaji. Risikonya nyaris nol.
“Kepercayaan pemerintah daerah luar biasa. Biasanya pemegang gaji itu BJB atau bank daerah masing-masing—di sini justru dipercayakan ke kita,” katanya. Hasilnya terlihat di laporan keuangan 2025: aset tumbuh 16 persen menjadi Rp775,8 miliar, pendapatan naik 32 persen menjadi Rp131 miliar, dan laba melonjak 52 persen menjadi Rp9,1 miliar.
Kredit disalurkan Rp31–35 miliar per bulan, dengan target outstanding Rp450 miliar di 2026. Tantangan terbesar Bank Kerta justru datang dari dunia yang sedang coba dimasuki. Pinjaman online telah menggerogoti basis nasabahnya dari arah yang tak terduga.
“Nasabah yang sudah kita bina sejak awal, tiba-tiba terjerat pinjol—kewajiban dia bertambah, sini pinjam, sini pinjam,” ungkapnya.
Ironinya, bank ini kini sedang menyelesaikan proses perizinan aplikasi mobile banking-nya sendiri, bernama GEMA, yang telah diuji coba pada 500 PNS dan 200 karyawan internal. Izin OJK sudah terbit Juli 2025; izin Bank Indonesia masih dalam proses konsultasi.
“Tiba-tiba persyaratan ini sudah kita penuhi, tiba-tiba ketentuan berubah,” ungkapnya.
Pada akhirnya, Bank Kerta adalah taruhan bahwa kedekatan dan kepercayaan masih mengalahkan kecepatan. Di satu sisi, ia menjangkau 450 sekolah dengan mobil kas keliling untuk menghimpun tabungan pelajar senilai Rp20,2 miliar.
Di sisi lain, ia mengelola payroll ribuan PNS. Dua wajah yang tampak bertolak belakang itu justru adalah sumber kekuatannya. Dan, alasan mengapa NPL-nya tetap di angka yang membuat bankir-bankir besar di Jakarta menggeleng-gelengkan kepala. “Kami ini kecil, tapi kami tahu betul siapa nasabah kami dan apa yang mereka butuhkan. Itu yang tidak bisa digantikan algoritma,” pungkasnya. (TR)
- Penulis: Redaksi



