PLN Enjiniring Bagikan Perspektif Integrasi BESS dan Energi Angin PADA ASEAN WIND AND ENERGY STORAGE CONFERENCE AND EXHIBITION 2026
- account_circle Redaksi
- calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TRIASINDONESIA.COM – PLN Enjiniring turut berpartisipasi sebagai pembicara dalam ajang ASEAN Wind and Energy Storage Conference and Exhibition 2026 yang diselenggarakan pada 21–22 Mei 2026 di Caravelle Saigon Hotel, Ho Chi Minh City, Vietnam. Konferensi ini menjadi salah satu forum energi terbarukan terbesar di kawasan ASEAN yang mempertemukan lebih dari 800 pemangku kepentingan industri, 50 pembicara ahli, investor, pengembang proyek, regulator, serta penyedia teknologi untuk membahas perkembangan energi angin dan penyimpanan energi di kawasan.
Dalam forum tersebut, Yehuda Bayu Kristiawan, Vice President Power System, Digital, dan Teknologi Informasi PLN Enjiniring, hadir sebagai salah satu pembicara dengan materi bertajuk Role of Energy Storage and Wind Integration in Supporting Energy Transition.
Pemaparan tersebut menyoroti peran strategis Battery Energy Storage System (BESS) dalam mendukung integrasi pembangkit energi terbarukan, khususnya pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), guna meningkatkan keandalan dan fleksibilitas sistem ketenagalistrikan. Dalam paparannya, Yehuda menjelaskan bahwa pengembangan energi terbarukan yang semakin masif memerlukan dukungan teknologi penyimpanan energi untuk mengatasi karakteristik intermiten dari sumber energi seperti angin dan surya.
BESS memiliki berbagai fungsi penting dalam sistem ketenagalistrikan, mulai dari load shifting, peak shaving, frequency regulation, voltage support, hingga black start yang berperan dalam menjaga stabilitas dan keandalan jaringan listrik. Yehuda juga memaparkan arah pengembangan sistem ketenagalistrikan Indonesia yang tertuang dalam RUPTL 2025 2034.
Dalam dokumen tersebut, pengembangan energi baru terbarukan menjadi salah satu fokus utama, termasuk penambahan kapasitas energi surya dan angin sebesar 24,3 GW serta pembangunan BESS dengan kapasitas mencapai 6 GW/27 GWh untuk mendukung integrasi energi terbarukan ke dalam sistem kelistrikan nasional.
Sebagai studi kasus, PLN Enjiniring turut mempresentasikan hasil simulasi implementasi BESS pada proyek PLTB berkapasitas 600 MW di sistem Jawa-Bali. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan BESS 120 MW/120 MWh mampu meredam fluktuasi daya keluaran pembangkit angin secara signifikan. Jika sebelumnya perubahan output PLTB dapat mencapai kenaikan hingga 40% dan penurunan hingga 60%, penggunaan BESS mampu menjaga perubahan daya dalam rentang ±10% sehingga sistem menjadi lebih stabil dan andal.
Direktur Utama PLN Enjiniring, Chairani Rachmatullah, menyampaikan bahwa keikutsertaan PLN Enjiniring dalam forum internasional ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk terus berkontribusi dalam pengembangan teknologi dan solusi ketenagalistrikan yang mendukung transisi energi.
“Partisipasi PLN Enjiniring pada forum internasional ini menjadi kesempatan strategis untuk berbagi pengalaman, memperluas kolaborasi, serta menunjukkan kapabilitas engineering Indonesia dalam mendukung pengembangan energi terbarukan. Kami percaya bahwa integrasi teknologi penyimpanan energi akan menjadi salah satu kunci utama dalam mewujudkan sistem ketenagalistrikan yang andal, fleksibel, dan berkelanjutan,” ujar Chairani.
Kehadiran PLN Enjiniring dalam ASEAN Wind and Energy Storage Conference and Exhibition 2026 sekaligus mempertegas peran perusahaan sebagai mitra engineering yang aktif mendorong inovasi dan pengembangan teknologi energi bersih.
Melalui berbagai kajian, studi sistem, dan solusi engineering yang dikembangkan, PLN Enjiniring terus berkomitmen mendukung transformasi sektor ketenagalistrikan menuju masa depan energi yang lebih hijau, andal, dan berkelanjutan. (SP/TR)
- Penulis: Redaksi



