PAM Jaya: REVOLUSI 15 MENIT DI BALIK KERAN WARGA
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TRIASINDONESIA.COM – Bayangkan. Pukul 09.17, alarm kecil berkedip di layar ruang kendali PT PAM Jaya. Tekanan air di salah satu ruas pipa Jakarta Barat turun 0,3 bar dalam lima menit. Bagi orang awam, angka itu tak berarti. Bagi operator, itu bisa menjadi tanda kebocoran. Tak ada petugas yang berlari membawa kunci pipa. Yang bergerak lebih dulu justru data.
Dalam hitungan detik, algoritma mencocokkan lokasi, membandingkan dengan pola konsumsi historis, dan mengirim sinyal ke tim teknis terdekat. Dua jam kemudian, kebocoran kecil di kedalaman 3 meter berhasil ditambal sebelum sempat menggenangi jalan atau dikeluhkan warga.
“Dulu, kebocoran baru ketahuan setelah pelanggan komplain atau genangan muncul kata Arief Nasrudin Direktur Utama PT PAM Jaya (Perseroda) saat ditemui Trias di ruang kerjanya, pekan lalu. “Sekarang, sistem kami yang lebih dulu tahu,” tambahnya.
Di balik kemampuan menelusur kebocoran sebelum sempat menjadi masalah itu, ada teknologi yang bekerja diam-diam di ribuan rumah warga: Cyble Meter, atau yang akrab disebut smart water meter oleh para teknisi. Alat seukuran kepalan tangan ini dipasang pada meteran air eksisting, mengubahnya dari benda mati menjadi perangkat cerdas yang bisa “berbicara”.
“Teknologi yang digunakan bernama LoRaWAN, singkatan dari Long Range Wide Area Network,” ujar Arief. “Satu pemancar LoRaWAN bisa menjangkau radius hingga 10 kilometer di perkotaan, menembus dinding-dinding beton dan bangunan bertingkat,” katanya.
Lebih jauh dijelaskannya, setiap 15 menit, Cyble Meter mengirim data pemakaian air ke gateway yang tersebar di berbagai titik Jakarta. Dari sana, data meluncur ke server pusat PAM Jaya. Artinya, dalam sehari, sistem menerima 4,7 juta titik data dari pelanggan.

“Dulu kami hanya tahu pemakaian pelanggan sebulan sekali, itu pun kalau petugas berhasil membaca meter,” ujar Arief sambil menunjukkan grafik di layar komputernya. Bagi pelanggan, perubahan itu terasa sederhana: tagihan lebih akurat, informasi lebih transparan, dan respons gangguan lebih cepat. Namun di balik kesederhanaan itu, integrasi data menciptakan efisiensi yang signifikan.
Setiap lonjakan tak wajar terbaca sebagai pola. Setiap penurunan tekanan segera dianalisis. Distribusi dapat disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan. “Sekarang kami tahu pola konsumsi harian, bahkan jam-jam tertentu. Jika ada lonjakan di luar kebiasaan, misalnya pukul 02.00 dini hari, sistem akan menandai kemungkinan kebocoran di dalam rumah,” urainya.
Pemasangan Cyble Meter tahap pertama dilakukan Oktober 2024 lalu. Sebanyak 49.000 unit dipasang di Jakarta Timur, Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Jakarta Pusat. Angka itu akan terus bertambah seiring target cakupan layanan 100 persen pada 2029.
Bagi Arief, digitalisasi menjadi fondasi transformasi. Sistem ERP terintegrasi menyatukan keuangan, distribusi, dan data pelanggan dalam satu ekosistem. Jaringan dipantau melalui SCADA secara real-time.
Call center berbasis kecerdasan buatan memilah ribuan aduan setiap hari, memetakan urgensi, dan memastikan tidak ada laporan yang tercecer. Integrasi billing C2M dan SuperApps Lapor PAM memungkinkan pelanggan memantau layanan dari genggaman. “Yang lebih penting adalah perubahan budaya kerja. Kami ingin semua pegawai sadar bahwa pelanggan adalah pusat dari semua yang kami lakukan,” ujarnya mengingatkan.
Di tengah hiruk-pikuk transformasi digital, PAM Jaya juga mengembangkan inovasi di sisi hulu. Arief menyebut ada dua teknologi yang menjadi game changer.
Pertama, Brackish Water Reverse Osmosis (BWRO) di Instalasi Pengolahan Air Mookervart, Jakarta Barat. Teknologi ini mampu mengolah air baku berkualitas rendah—yang semula tercemar limbah industri—menjadi air siap minum berstandar Peraturan Menteri Kesehatan.
Kedua, Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) di Kepulauan Seribu. Selama ini, biaya produksi air di sana melangit: Rp40 ribu per meter kubik, sementara warga hanya membayar Rp1.000. Subsidi membengkak, namun layanan belum optimal.
PAM Jaya tengah mengkaji terobosan besar: pembangunan pipa bawah laut sepanjang 110 kilometer yang akan mengalirkan air bersih langsung dari daratan Jakarta ke delapan pulau permukiman. “Jika terealisasi, pipa bawah laut ini akan menjadi yang terpanjang di Indonesia dan warisan monumental bagi pemerataan layanan air di Jakarta,” pungkasnya. (TR)
- Penulis: Redaksi



