Geo Dipa Energi : PIONIR PANAS BUMI DAN PENGGERAK EKONOMI – ENERGI HIJAU
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sel, 17 Feb 2026

TRIASINDONESIA.COM – Panas bumi atau geothermal menjadi andalan utama Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk menggantikan bahan bakar fosil karena kemampuannya menyediakan listrik secara terus-menerus (baseload). Energi ramah lingkungan ini krusial bagi transisi energi dan sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan kedaulatan energi nasional serta mengurangi ketergantungan impor bahan bakar.
Berdasarkan data Badan Geologi, potensi panas bumi Indonesia mencapai sekitar 24 Gigawatt (GW), dengan pemanfaatan saat ini baru sekitar 2,8 GW atau 11%. Namun, pemerintah akan meninjau ulang potensi 24 GW tersebut menggunakan teknologi konversi energi terkini. Sebagai perbandingan, Amerika Serikat berhasil meningkatkan estimasi kapasitasnya secara drastis (dari 15 GW menjadi 150 GW) setelah menerapkan teknologi modern.
Dari 24 GW, Pemerintah menargetkan kapasitas terpasang panas bumi mencapai 5 GW pada tahun 2030. Geo Dipa saat ini memiliki kapasitas terpasang sebesar 130 MW, dan telah menandatangani kontrak dengan PT PLN (Persero) untuk pembelian 800 Megawatt (MW) listrik (400 MW Dieng dan 400 MW Patuha).
Selain kewajiban mendukung transisi energi, Geo Dipa berperan mewujudkan swasembada energi agar Indonesia mandiri dan tidak bergantung pada pihak lain. Berbeda dengan batu bara atau gas yang tersedia di dalam negeri, bahan bakar minyak (BBM) saat ini masih harus diimpor.
Panas bumi dianggap strategis untuk swasembada energi Indonesia karena potensi besar (sekitar 40% cadangan dunia) dan sifatnya yang terbarukan. “Panas bumi jauh lebih strategis untuk swasembada energi Indonesia saat ini. Adalah tepat dan sangat wajar jika menjadi fokus utama dalam Asta Cita pemerintahan Bapak Presiden Prabowo Subianto,” tutur Yudistian Yunis, Direktur Utama (Dirut) PT Geo Dipa Energi kepada Trias.

Sebagai Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan, Geo Dipa berperan sebagai fiscal tools berbasis energi panas bumi (green energy) untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi dan carbon offset. Dengan potensi penurunan emisi sebesar 560 ribu ton per tahun dan harga karbon 4 dollar per ton, kita mampu menghasilkan carbon offset senilai 2,2 juta US dollar.
Kemudian Geo Dipa menekankan perannya sebagai penyedia energi panas bumi 24×7 (base load) yang strategis dalam menopang pertumbuhan ekonomi hijau nasional. Dengan mendorong industry menggunakan energi bersih, Geo Dipa berharap dapat meningkatkan daya saing, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.
Saat ini saja dampak Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) terhadap lapangan kerja dan ekonomi daerah sudah nyata terlihat, mulai dari penyerapan tenaga kerja lokal dan ahli, perputaran ekonomi daerah, antusiasme masyarakat, serta dampak jangka panjang.
Penyerapan tenaga kerja lokal misalnya terlihat dalam proyek konstruksi PLTP Unit 55 MW di Dieng/Patuha, membutuhkan sekitar 500 pekerja, dengan 60%-70% diantaranya merupakan tenaga kerja local setempat. Sekitar 30%-40% kebutuhan pekerja dipenuhi oleh tenaga ahli dari luar wilayah proyek, namun tetap mengutamakan tenaga kerja domestik Indonesia.

Proyek panas bumi menggerakkan ekonomi lokal dengan perputaran uang ekonomi daerah mencapai sekitar Rp60 miliar, yang bersumber dari kebutuhan akomodasi, konsumsi, dan jasa laundry pekerja. Antusiasme masyarakat terhadap dampak positif ekonomi yang signifikan membuat masyarakat di sekitar Lokasi proyek (Dieng/Patuha) proaktif mendukung keberlanjutan proyek panas bumi.
“Proyek ini menciptakan sirkuler ekonomi atau dampak jangka panjang, seperti peningkatan bisnis pondokan atau kabin yang kini terisi sepanjang tahun, tidak lagi hanya saat akhir pekan sebelum proyek ini ada,” tuturnya. Selain itu, Geo Dipa bertugas mengatasi hambatan regulasi (debottlenecking) dan mengurangi risiko eksplorasi panas bumi (derisking), yang didukung oleh pendanaan dari World Bank.
Dengan cakupan proyek menyeluruh dari hulu ke hilir, upaya ini bertujuan menjadikan energi panas bumimsebagai tulang punggung utama energi nasional, yang besar kemungkinan akan disiapkan pemerintah. Pemerintah menargetkan bauran EBT tinggi, dengan target awal 23% pada 2025, namun kini direvisi menjadi sekitar 17-19% karena sejumlah tantangan. Panas bumi menjadi salah satu andalan utama (menjadi sekitar 40% dari bauran EBT), memainkan peran krusial untuk mencapai target tersebut, dengan fokus pada peningkatan kapasitas PLTP dan mengatasi isu-isu pengembangan.
Meskipun target bauran energi EBT pemerintah tinggi, namun kata Yudistian, harus direalisasikan. Hal ini memerlukan kerja sama pemerintah dalam hal harmonisasi regulasi dan penyederhanaan izin. Sebagai BUMN, Geo Dipa bertugas menyampaikan kendala ini kepada pemerintah.
Ia meyakini, optimalisasi dan percepatan masih sangat dimungkinkan, terutama terkait perizinan AMDAL dan pemanfaatan hutan. “Kami terus berkoordinasi dengan Kementerian ESDM, karena Direktorat Jenderal EBTKE saat ini proaktif dalam perbaikan regulasi hingga Tingkat daerah.

EBTKE sekarang cukup proaktif untuk hal-hal yang berkaitan dengan regulasi, termasuk ke pemerintah daerah,” ungkapnya. Guna meningkatkan proyek efisiensi dan keberlanjutan proyek panas bumi, Geo Dipa menggunakan pendekatan teknologi dan metode terintegrasi dari hulu ke hilir.
Pertama. Teknologi Subsurface (Eksplorasi). Pengembangan Metode Geofisika Baru : Geo Dipa fokus meningkatkan akurasi dalam menemukan cadangan uap panas bumi. Berikutnya Kolaborasi Riset: Bekerja sama dengan perguruan tinggi dalam negeri dan mitra global (Amerika, Jepang, Selandia Baru, Australia, China) untuk riset subsurface.
Kedua. Teknologi Pengeboran (Eksploitasi). Kerja sama Service Company Global: Melibatkan perusahaan teknologi pengeboran seperti Schlumberger, Baker Hughes, dan Halliburton. Efisiensi Sumur: Menerapkan metodologi pengeboran yang optimal untuk memaksimalkan hasil uap dari dalam bumi.
Ketiga. Teknologi Pembangkitan (Pemanfaatan Energi). Flash System: Geo Dipa menggunakan sistem single flash yang ada saat ini, serta sedang mengembangkan double flash untuk meningkatkan efisiensi. Binary/Bottoming System: Sedang menjajaki teknologi bottoming atau binary cycle untuk memanfaatkan seluruh entalpi (panas) agar tidak ada energi yang terbuang (waste).
Tujuannya, mengonversi seluruh entalpi menjadi energi secara optimal. Keempat. Tim CATS: Geo Dipa memiliki tim khusus (CATS) yang bertanggung jawab atas pengembangan dan penelitian (research) bersama pihak swasta dan universitas. “Harapannya adalah tingkat keberhasilan mendapatkan uap lebih tinggi, efisiensi pemanfaatan enthalpy-nya juga lebih optimum. Jadi tidak ada yang hilang entalpinya, Jadi semuanya termanfaatkan menjadi energi, itu yang sekarang kita lagi buat, itu kita mengikuti dunia,” terang Yudistian.
Geo Dipa berharap pemerintah memprioritaskan penggunaan energi hijau (renewable energy) untuk mendukung produk industri berorientasi ekspor, bukan sekadar rumah tangga. Hal ini untuk meningkatkan daya saing ekspor sekaligus mempermudah akses ke pasar negara maju dan menghindari pajak karbon (insentif ekspor). (TS)
- Penulis: Redaksi



